Jumat, 12 Agustus 2011

Untuk Apa Beragama ?


Sebagaimana kita fahami, agama merupakan sebuah jalan bagi manusia untuk mencari kebahagiaan. Agama menjadi pedoman dan ajaran yang dikuti oleh banyak manusia, sebagai upaya untuk mendapatkan kebahagiaan. Orang beragama pada dasarnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Namun bagaimana realitasnya? Banyak manusia beragama justru harus berhadapan dengan berbagai konflik. Suatu kelompok masyarakat ketika mereka mementingkan agamanya, maka masyarakat tersebut akan berhadapan secara diametral dengan masyarakat lain yang juga ingin menjalankan agamanya.
Masyarakat muslim Palestina ketika atas nama agama, mereka mencoba mempertahankan tanah kelahirannya, harus berlawanan dengan tentara Israil, yang juga atas nama agama ingin merebut tanah suci agama Yahudi. Hampir tiap hari pemuda dan remaja Palestina dengan ketapelnya, dengan batu-batu kerikil harus berhadapan dengan tentara Isarail yang membawa senjata modern. Puluhan pemuda dan remaja Palestina menjadi korban pembantaian oleh tentara Israil hampir tiap hari.
Setelah kelompok Hamas memenangkan Pemilu 2006 ini dan memimpin pemerintahan Palestina, terjadi penghentian bantuan dana dari Amerika Serikat dan dunia barat. Di negara Palestina sendiri terjadi pertentangan dan konflik internal antara kelompok Hamas dan kelompok Fatah (partai pemegang pemerintahan sebelumnya).
Di Irak, dalam kepemimpinan Saddam Husein yang mengibarkan bendera “Laa ilaaha illallah” harus menghadapi keganasan pasukan Amerika Serikat yang kemudian menghancur luluhkan negeri 1001 malam itu. Setelah Saddam Husein ditangkap dan diadili, masyarakat Irak mengalami perang saudara, yaitu kaum Sunni dan kaum Syiah, saling baku hantam. Terjadi pengeboman oleh jamaah Sunni di Masjid milik kaum Syiah dan sebaliknya dilakukan pengeboman oleh jamaah Syiah di Masjid milik kaum Sunni.
Di Ambon, beberapa tahun lalu juga terjadi peperangan dengan baku tembak, saling membunuh, dengan peralatan pedang, samurai, tombak, dan pistol rakitan antara kaum muslimin dan kaum nasrani.
Konflik yang tak pernah ada habisnya juga terjadi antara organisasi NU dan Muhammadiyah, padahal dua organisasi ini sama-sama dari kelompok muslim. Barangkali di tingkat pimpinan, ada upaya untuk meredam konflik itu, namun di kalangan masyarakat bawah, masih sering mereka tidak bersedia untuk duduk dalam satu forum.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, kaum muslim Indonesia juga mengalami ketakutan dan kekhawatiran jika menunjukkan identitas keislamannnya, karena distampel sebagai teroris. Mereka yang dicurigai teroris, akan ditangkap oleh pasukan detasemen 88 antiteror dan harus melakukan serangkaian proses pemeriksaan. Dengan beragama diharapkan akan mendapatkan ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan malah yang didapat sebaliknya, ketakutan dan kecemasan.
Apa yang saya uraikan merupakan realitas di depan mata yang pada akhirnya memunculkan pernyataan yang stereotip, untuk apa kita beragama jika agama justru mengantarkan kita pada peperangan, kehancuran, hilangnya kedamaian? Banyak orang akhirnya tak mau peduli terhadap ajaran agamanya, cenderung bersikap pasif, cuek bahkan tak mau membawa konsep agama dalam kehidupannya, khususnya dalam masyarakat.

1 komentar:

armae mengatakan...

aku juga pernah baca hal yang serupa seperti ini, dan yang bisa kusimpulkan, mungkin kita *aku berbicara dari kacamata islam* sudah tidak memiliki tokoh yang patut dijadikan panutan, seperti Nabi SAW. semua muncul dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda dan lain sebagainya. dan menurutku itu adalah salah satu penyebab dari banyaknya perbedaan antara golongan yang satu maupun yang lain,walaupun masih sama-sama menganut islam.